Menulis "Bayar Hutang"

Model menulis bayar hutang ini saya dapatkan manakala saya berada dalam mobil Xenia di suatu Jumat pagi dari Semarang menuju Masjid menara Kudus. Tujuan saya ke sana adalah membayar nadzar yang pernah saya ucapkan bahwa apabila nanti saya memiliki istri maka saya akan mengajaknya pergi ke Masjid menara Kudus plus ziarah ke makam Sunan Kudus (Jakfar Shodiq). Akhirnya saya bersyukur bahwa saya telah membayar nadzar (janji) yang saya ucapkan dan terealisasi setelah dua tahun saya menikah.

Dari peristiwa di atas, saya mendapatkan ilmu sederhana dalam dunia tulis menulis bahwa kita bisa menuliskan kejadian apapun yang kita alami, menjadi bahan tulisan di buku-buku. Dan, apabila cara ini yang kita pakai maka inspirasi menulis menjadi unlimited (tanpa batas). Dari beragam tulisan Anda tersebut, anda tinggal mencarikan satu penghubung yang mampu menghubungkan tulisan “kejadian” Anda menjadi satu kesatuan utuh dan dikemas dalam satu tema, misalnya Judul The Dahsyat Writing.

Menulis bayar hutang ini, sangat beragam dan masing-masing orang memiliki cerita tersendiri, terbukti kemarin ketika saya pergi ke toko buku Gramedia, saya mendapatkan satu judul tentang orang yang berjibaku dengan hutang. Background orang tersebut adalah lulusan Entrepreneur University yang melakukan usaha dengan utang sana-sini, punya bisnis, angsuran ke bank yang macet, diburu debt collector, serta detailnya yang belum terfikirkan oleh orang lain. Sekarang, pengarangnya telah menulis buku cukup banyak. Saya tidak menyebut nama dan judul bukunya karena saya tidak memiliki bukunya, saya mengetahui pas jalan-jalan searching macam-macam buku di gramedia.

Menulis “Bayar hutang” adalah cara saya memaksa diri saya, mengalahkan diri saya sendiri bahwa dalam setahun saya harus menerbitkan minimal dua buku. Satu buku di Bulan Mei – bulan kelahiran saya, satu lagi di bulan Desember – bulan menghadiahi diri sendiri dalam menyambut tahun baru. Agar saya semakin termotivasi dalam menulis buku, saya bicarakan target tahunan saya kepada orang lain, sehingga ketika orang lain ketemu dengan saya, mereka akan bertanya,”Bagaimana bukunya, sudah dapat berapa persen?” Tentu saja jika saya malas menulis maka saya akan malu sendiri sebab saya akan pacu saya untuk menghindari Cap “Identitas” pembohong, Pembohong karena tidak merampungkan buku baru di Bulan Mei dan Desember.

Untuk mendukung model menulis “Bayar Hutang”, saya menetapkan tulisan sebanyak seribu kata setiap kali saya menulis. Dengan seribu kata, maka saya mendapatkan minimal tiga halaman buku, apabila saya mentargetkan setiap buku minimal seratus lima puluh halaman maka saya tinggal mencari judul sejumlah empat puluh lima . (150 : 3 = 45). Apabila saya tidak menemukan 45 macam tips atau artikel maka saya akan kembangkan tulisan saya menjadi minimal 15 bab, dimana tiap-tiap bab terdiri atas 10 halaman. Dari satu bab, saya bagi menjadi minimal tiga sub bab, dimana satu sub bab berisi tiga halaman ditambah satu pengantar judul bab. Gambarannya seperti ini :

1. Bab Satu
Bab satu ini, berisi satu judul yang dijelaskan oleh penjelasan sampai satu halaman.
1.1. Sub Bab Satu bagian Satu
Berisi penjelasan sub bab satu, yang saya jabarkan menjadi tiga halaman
1.2 Sub Bab Satu bagian Dua
Sama dengan keterangan sub bab 1.1, yang berisi tiga halaman
1.3. Sub Bab Satu bagian Tiga
Berisi penjelasan detail, terdiri minimal tiga halaman juga, apabila sub bab berisi tulisan yang melebihi tiga halaman, saya anggap kelebihan tersebut sebagai tabungan pada sub bab bagian Bab berikutnya yang mungkin bahasannya kurang dari tiga halaman.

Menulis bayar hutang, adalah benar-benar Anda menuliskan kejadian  membayarkan hutang Anda di bank BRI, pegadaian saat Anda menebus barang gadaian Anda, atau membayar di bank BPR yang sekarang menjamur luar biasa dengan iming-iming cukup sekolahkan BPKB Anda, 15 menit langsung cair tanpa repot, tanpa survei, atau ketika Anda membayar Hutang di BMT. BMT sebagai wadah pembiayaan syariah dengan sistem bagi hasil yang saya tidak paham secara detailnya. katanya di BMT tidak ada istilah bunga yang berarti riba. Entahlah.

Terlepas dari semua hal di atas, untuk melengkapi artikel ” Menulis Bayar Hutang”, sebetulnya ada metode interaktif dalam menulis, yaitu menulis draft buku-buku kita di Social Media dalam bentuk notes, kemudian kita tag kawan-kawan Facebook kita dan di ujung tulisan kita berikan pancingan umpan balik berupa kalimat,” bagaimana menurut Sampeyan ?” Maka otomatis kita akan mendapatkan jawaban berupa komentar yang semakin memperkaya tulisan kita, jadi ketika memindahkannya ke draft buku, tulisan tersebut telah diperkaya para pembaca melalui masukan- kritik , sanggahan dan pujian atau komentar sahabat yang hanya ingin eksis dengan menulis “dahsyat, mantap, siiip, dan kata-kata singkat lainnya, atau hanya emoticon “:D” (titik dua dan Huruf kapital d).

Ternyata dengan menulis dan mempublish secara dini, meskipun artikel yang pendek sepanjang 200 kata pun, telah mampu merangsang kreatifitas kita untuk terus menulis dan mengasah ketajaman kata-kata melalui praktek menulis kecil-kecil, termasuk cara menulis bayar hutang.

Menulis bayar hutang, sangat berbeda dengan keterampilan belajar stir mobil, kesamaan antara belajar menulis dan belajar setir mobil adalah intesitas melakukannya, intensitas menulis dan intensitas memegang setir mobil di jalanan. saya teringat saat pertama kali pegang stir mobil, saya tidak bisa mengarahkan mobil Avanza yang saya setir untuk maju dan mundur secara lurus garis. Namun dengan terus melakukannya, pada pertemuan kedua saya bisa merasakan bagaimana mengatur roda mobil sehingga lurus ke depan, on the track. Maka menulispun , kurang lebihnya hampir sama, kalau Anda hanya menulis baru pertama kali , dua kali, dan belum  menerbitkan buku maka Anda belum bisa merasakan sendiri perasaan “Menulis Tepat”.

Perasaan menulis tepat tentang apa yang Anda bahas dalam artikel Anda, segera Anda dapatkan melalui pembelajaran dan praktek tulis menulis secara berkesinambungan, berdiskusi dan berbagi kepada para penulis pemula yang lain. Menulis Tepat ini adalah istilah yang saya dapati di akhir-akhir paragraf pada tema menulis bayar hutang. Dan terbukti semakin saya tulis, saya ulas maka bahasannya seakan tidak ada habis-habisnya. Materinya menjadi berkembang, bisa melebar dan memberikan wawasan baru bagi yang membaca, yang menyimak terutama beraimbas positif kepada penulisnya. Saya percaya hal ini, rasakan kompetensi Anda setelah Anda menulis, saya menyebutnya : Kompetensi menulis Tepat.

Kita mesti senantiasa mengingat bahwa Kompetensi menulis tepat menjadi penyumbang lima puluh persen bagi pembentukan brand pribadi kita di zaman super ini.  Lima puluh persen yang lainnya diisi oleh kompetensi kita sebagai pembiacar publik. Jadi,, jika Anda sempat menulis, maka menulislah dengan tepat, apabila Anda belum sempat untuk menulis tepat, maka alokasikan waktu Anda untuk menulis tepat, sebab bila Anda sampaikan Anda tidak punya waktu, artinya pengaturan waktu Anda sangat buruk. Pengaturan waktu yang buruk sebagai indikasi Anda belum optimal dalam disiplin diri, lalu apakah orang yang tidak punya disiplin tinggi bisa sukses ?

Bagaimana menurut Anda ?

Advertisements

About ILYAS AFSOH

SURABAYA NLP HIPNOTIS HIPNOTERAPI PUBLIC SPEAKING MOTIVATOR INTERNET MARKETING COACH
This entry was posted in 2 Inspirasi Menulis Buku and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s